Sabtu, 08 Oktober 2011

Inikah BBM untuk Android?


Bocoran BBM di Android (via techradar)

Jakarta - Berhembus kabar, BlackBerry Messenger (BBM) akan mampir ke Android. Informasi ini lantas diperkuat dengan penampakan BBM untuk Android tersebut yang bocor di internet.

Sebelumnya, Research In Motion (RIM) memang santer dikabarkan akan merilis aplikasi messenger untuk Android dan iOS. Di sisi lain, si pembesut BlackBerry ini memang belum mengonfirmasi rumor tersebut.

Foto-foto screenshot BBM di Android itu berasal dari seorang pegawai RIM. Sumber internal RIM itu menyebutkan bahwa aplikasi ini sedang dalam tahap akhir pengujian dan akan diluncurkan pada 2012.

Dilaporkan Tech Radar dan dikutip detikINET, Selasa (4/10/2011), screenshot yang bocor di internet itu memperlihatkan ikon BBM di layar menu dan halaman profil kontak di ponsel Android. Karena masih beta, kemungkinan masih akan banyak pengembangan di aplikasi ini.

Halaman profil kontak menawarkan semua detail yang diharapkan pengguna, mulai dari ikon buku kontak, messaging di bagian bawah halaman serta nama kontak, foto, PIN dan ketersediaan status yang ditampilkan.

Kemungkinan besar aplikasi ini dapat digunakan untuk mengirim pesan ke teman yang menggunakan BlackBerry. Dan narasumber RIM menyebutkan aplikasi BBM tersebut bekerja sangat baik dengan push notification di Android.
Bocoran BBM Android (techradar)

Bocoran BBM Android (techradar)

(Foto-foto: TechRadar)





http://www.detikinet.com/

Jobs, Mahasiswa Drop Out yang Merevolusi Jagat Teknologi





Jakarta - Steve Jobs adalah mahasiswa gagal. Dia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya. Namun meski mengalami masa-masa susah kala memutuskan drop out, Jobs menyatakan keluar dari kuliah adalah salah satu keputusan terbaiknya.

Tahun 1972, Jobs masuk kuliah di Reed College di Portland, Oregon. Dia memutuskan drop out setelah baru 6 bulan kuliah. Jobs merasa tidak cocok dan tidak mau menghamburkan uang orang tua untuk ongkos kuliah.

"Aku secara naif memilih universitas yang ongkosnya hampir semahal Stanford dan semua tabungan orang tua dihabiskan untuk biayanya. Setelah 6 bulan, aku tak bisa melihat manfaatnya. Aku tak punya ide apa yang ingin kulakukan dengan hidupku dan bagaimana universitas akan membantu menemukannya. Aku menghabiskan semua uang yang ditabung orang tua selama hidup mereka," kata Jobs dalam pidato upacara wisuda di Stanford University tahun 2005.

"Jadi aku putuskan drop out dan percaya semuanya akan baik-baik saja. Cukup menakutkan waktu itu, namun ketika melihat ke belakang itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat," ucapnya sepertidetikINET kutip dari Washington Post, Kamis (6/10/2011).

Masa-masa Susah

Jobs mengenang bahwa sesudah drop out adalah masa-masa susah. Jobs terpaksa menggelandang karena tak punya kamar. Ia tidur di lantai kos temannya. Dia menjual botol minuman untuk mendapat uang agar bisa makan. Namun Jobs mengaku menikmatinya.

Dia juga mengambil kelas seni kaligrafi untuk mengasah intuisinya dalam masa-masa awaldrop out. Jobs mengaku pelajaran itu membantunya mendesain susunan tipografi di komputer Mac.

Sesudah DO, perjalanan hidup Jobs berliku-liku. Dia pernah ditendang dari Apple pada tahun 1984. Padahal, Apple adalah perusahaan yang didirikannya bersama Steve Wozniak. Namun ia kembali sukses dengan menjadikan studio film Pixar bertaji di industri film animasi. Dia kembali pada Apple tahun 1997, lalu menjadikannya begitu jaya.

Ya, meski berstatus mahasiswa DO dan berulangkali ditimpa kesulitan, Jobs akhirnya sukses besar. Ia merevolusi dunia teknologi dengan kehadiran iPod, iPhone dan tentunya iPad. Produk-produk tersebut laku keras dan memaksa kompetitor bekerja keras melawan sepak terjang Apple.

Inilah nasehatnya untuk para lulusan Stanford pada akhir pidatonya tersebut:

"Waktu Anda terbatas, jangan sia-siakan untuk menjalani kehidupan seperti orang lain. Jangan terjebak pada dogma, yang adalah hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan opini orang lain menenggelamkan suara di dalam Anda. Yang paling penting, beranilah mengikuti hati dan intuisimu yang entah bagaimana sudah tahu sesungguhnya Anda ingin menjadi apa,"





http://www.detikinet.com/read/2011/10/06/144642/1738330/398/jobs-mahasiswa-drop-out-yang-merevolusi-jagat-teknologi?i991101mainnewshttp://www.detikinet.com/

Kamis, 06 Oktober 2011

Steve Jobs dari Masa ke Masa




Jakarta - Tak bisa dipungkiri, Steve Jobs adalah inovator ulung pada zamannya. Kepergiannya akan dikenang sampai generasi mendatang. Dialah yang menemukan berbagai perangkat teknologi revolusioner seperti iPod, iPhone dan iPad.

Jobs membangun Apple bersama Steve Wozniak di sebuah garasi. Mereka menjual komputer pertama Apple I pada tahun 1976 yang kala itu dijual seharga USD 666,66. Inilah cikal bakal perusahaan yang kini produknya sangat digemari dunia.

Karena berbagai masalah, Steve Jobs pernah meninggalkan Apple. Namun dia kembali lagi pada tahun 1997 ketika kondisi Apple tengah suram. Kembalinya sang legenda menjadi awal kejayaan Apple yang kemudian melahirkan berbagai perangkat revolusioner dan menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.

Kini, Jobs telah tiada. Dunia mengenangnya dengan berbagai macam cara, tokoh-tokoh angkat suara memuji kejeniusannya. Berikut napak tilas kegemilangan Jobs dalam rekaman foto:

Salah satu foto legendaris yang menampilkan Steve Jobs bersama Steve Wozniak mengutak atik komputer pertama Apple.

Komputer Macintosh yang dirilis pada tahun 1984, menandai salah satu jejak kegemilangan Jobs kala menahkodai Apple.

Steve Jobs kala muda dengan komputer Macintosh kebanggannya

Setelah sempat pergi, Jobs kembali ke Apple pada tahun 1997 dan memperkenalkan komputer iMac pada tahun 1998

Steve Jobs memperkenalkan iPod tahun 2001

iPhone, salah satu penemuan terbesar Jobs

Steve Jobs dengan iPad, komputer tablet yang sampai kini masih sangat laris.

Foto terakhir Jobs di publik pada akhir Agustus 2011, menampakkan kondisinya sangat lemah.







http://www.detikinet.com/

10 Kalimat Inspiratif Sang Jenius





Jakarta - Sosok legendaris di ranah teknologi, Steve Jobs, telah meninggal dunia di usianya yang ke-56. Akan tetapi, jejak kesuksesannya tidak akan pernah dilupakan.

Kesuksesan yang ia raih bersama Apple ini tidak luput dari cara Jobs memandang kehidupan serta bisnis yang ia jalani. Ia pun sering berbagi kalimat penuh inspirasi. Berikut beberapa di antaranya:

"Sangat sulit membuat desain sebuah produk. Kerap kali orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan, sampai kita menunjukkannya pada mereka".(BussinessWeek, 1998).

"Ini adalah salah satu mantra saya - fokus dan kesederhanaan. Kamu harus berkerja lebih keras untuk menjernihkan pikiran dan menghasilkan kesederhanaan. Pada akhirnya hal ini akan setimpal. Saat kamu tiba di sana, kamu bisa memindahkan gunung". (BusinessWeek, 1998).

"Menjadi orang terkaya di pemakaman tidak berarti bagi saya...Pergi ke tempat tidur dan mengatakan bahwa kami telah melakukan sesuatu yang luar biasa...Itulah yang berarti bagi saya". (The Wall Street Journal, 1993).

"Saya akan selalu terhubung dengan Apple. Mungkin ada saat-saat atau tahun-tahun di mana saya tidak di sini, namun saya akan selalu kembali". (Playboy, 1985).

"Kami tidak pernah khawatir terhadap angka-angka. Apple selalu mencoba berfokus pada produk karena sebuah produk benar-benar akan membuat perbedaan". (Playboy, 1985).

"Kamu harus memiliki keyakinan terhadap sesuatu - keinginan, takdir, hidup, karma, apapun itu". (Stanford commencement speech, 2005).

"Pekerjaanmu akan menjadi bagian penting dari kehidupanmu. Satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan adalah dengan percaya bahwa apa yang kamu kerjakan adalah pekerjaan yang hebat. Cintai apa yang kamu kerjakan. Jika kamu belum menemukannya, tetaplah cari. Jangan berhenti". (Stanford commencement speech, 2005).

"Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Meski mereka yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati. Namun kematian adalah tujuan kita bersama, tidak ada yang bisa lolos darinya. Kematian adalah penemuan terbaik dalam kehidupan. Ia membersihkan yang lama dan membuat jalan untuk yang baru. Sekarang yang baru adalah kamu, namun suatu saat nanti kamu akan menjadi tua dan 'dibersihkan'. Maaf terlalu dramatik, namun ini benar". (Stanfordcommencement speech, 2005).

"Panutan saya untuk bisnis adalah The Beatles. Mereka saling mengimbangi satu sama lain. Beginilah cara saya memandang suatu bisnis, bisnis yang hebat bukan dilakukan oleh satu orang, melainkan oleh tim". (Interview with 60 Minutes, 2003).

"Jika kamu melakukan sesuatu yang bagus, maka selanjutnya kamu harus melakukan hal lain yang luar biasa. Jangan tinggal terlalu lama, pikirkan apa yang harus kamu buat selanjutnya".(NBC Nightly News, May 2006).





http://www.detikinet.com/

Kanker Ganas Renggut Hidup Steve Jobs


Jakarta - Steve Jobs meninggal dunia di usia 56 tahun karena masalah kesehatan. Meski Apple tidak menyebutkan secara jelas penyebab kematiannya, Jobs dilaporkan kalah 'berperang' melawan kanker pankreas.

"Dia melawan dan terus melakukan hal-hal yang dia inginkan sambil hidup dengan penyakit ini. Fakta bahwa seseorang dengan sumber daya seperti dia tidak bisa melawan penyakit ini adalah statement yang kuat," kata Julie Flashman, Presiden dan CEO Pancreatic Cancer Action Network.

Ya meski kaya raya, Jobs tidak bisa bertahan. Memang kanker pankreas terbilang penyakit ganas, di mana 75% pasiennya meninggal dunia kurang dari setahun setelah didiagnosis. Sedangkan 94% akan meninggal dalam jangka waktu 5 tahun.

Menurut Julie, kanker pankreas bisa mengganas karena tidak ada metode deteksi dini untuk penyakit ini. Kanker tersebut biasanya didiagnosa setelah keadaan penderitanya sudah cukup parah.

Seperti detikINET kutip dari myhealthnewsdaily, Kamis (6/11/2011), gejala kanker pankreas seringkali tidak muncul sampai penyakit mencapai tahap lanjut. Gejala itu termasuk berkurangnya berat badan dan kehilangan nafsu makan.

Hanya 8% kasus kanker pankreas terdiagnosa sebelum menyebar. Metode kemoterapi pun seringkali kurang efektif dalam membunuh sel kanker pankreas, sehingga pasien hanya punya sedikit pilihan.

Steve Jobs diketahui sudah beberapa kali dioperasi. Namun apa daya, dia tak kuasa melawan penyakit mematikan tersebut. Selamat jalan, legenda...





http://www.detikinet.com/

Jumat, 16 September 2011

Ibu yang sepuluh anaknya jadi dokter





Nafisah Ahmad Zen Shahab, Ibu yang Sepuluh Anaknya Jadi Dokter
Berkat Provokasi si Sulung Setiap Mudik Lebaran

Nafisah Ahmad Shahab barangkali bisa disebut sebagai supermom. Di antara 12 anak hasil pernikahannya dengan almarhum Alwi Idrus Shahab, sepuluh orang menjadi dokter. Di antara sepuluh dokter itu, tujuh orang bertitel spesialis.

SPESIALISASI tujuh anak Nafisah itu pun tidak ecek-ecek. Si sulung, Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FECS FACC, meraih spesialisasi di bidang kardiovaskular. Anak pertama itu juga menjadi satu-satunya yang meraih gelar doktor di antara sepuluh dokter bersaudara itu. Kemudian, drg Farida Alwi menekuni bidang spesialisasi gigi; dr Shahabiyah MMR menjadi Dirut RSU Islam Harapan Anda di Tegal; dr Muhammad Syafiq SpPD, spesialis penyakit dalam; dr Suraiyah SpA (spesialisasi anak); dr Nouval Shahab SpU, spesialis urologi dan sedang menempuh pendidikan untuk gelar PhD di Jepang; dan dr Isa An Nagib SpOT mengambil bidang spesialisasi ortopedi.

Sementara tiga putra Nafisah yang lain masih bergelar dokter umum. Mereka adalah dr Fatinah yang menjabat wakil direktur RS Ibu dan Anak Permata Hati Balikpapan; dr Zen Firhan, dokter umum di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center; dan dr Nur Dalilah, dokter umum di RS Permata Cibubur.

Dua anak Nafisah yang tidak berprofesi sebagai dokter adalah Durah Kamilia (anak keempat) dan Zainab (anak ketujuh). Durah menekuni bidang desain, sedangkan Zainab menggeluti bidang kimia. Dia sedang menempuh pendidikan S-2 kimia di Universitas Padjadjaran, Bandung.

''Dulu sih sebenarnya mau kuliah dokter juga. Tapi, pas ujian masuk lagi sakit, jadi keterima di pilihan kedua di jurusan kimia,'' kata Zainab saat ditemui Jawa Pos bersama Nafisah dan Isa An Nagib (anak kesembilan) di kediaman si sulung di Puri Sri Wedari, Cibubur, Depok, Jawa Barat, kemarin (23/4).

Sebenarnya keluarga Nafisah bukan keluarga dokter. Pendidikan Nafisah dan Alwi Idrus juga tidak tinggi-tinggi amat. Nafisah hanya lulusan SMA, sedangkan Alwi bertitel sarjana muda jurusan ekonomi. Mereka bekerja sebagai pedagang. Tapi, pasangan itu mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang hebat.

Berkat prestasi langka itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) mengganjar keluarga asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut dengan gelar Profesi Dokter Terbanyak dalam Satu Keluarga.

Bagaimana mendidik sepuluh anak menjadi dokter? Menurut Nafisah, semua itu berkat didikan keras almarhum suaminya, Alwi Idrus Shahab. Awalnya keluarga tersebut adalah keluarga saudagar. Mereka memiliki toko di kawasan kota Palembang yang menyediakan kain dan batik. Grosir bisa, eceran oke.

Dagangan kain dan batik itu cukup sukses. Namun, Alwi tidak pernah mendidik anak-anaknya mengikuti jejak orang tua menjadi saudagar. Dia menginginkan semua anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi daripada dirinya. Keinginan itu muncul, kata Isa An Nagib, karena pengalaman pribadi sang ayah.

Alwi yang lulusan sarjana muda jurusan ekonomi itu merupakan anak lelaki yang paling tua. Dia mengemban beban berat untuk membantu adik-adiknya. Keinginan menempuh pendidikan yang lebih tinggi tak kesampaian karena dirinya harus bekerja keras. ''Beliau tak ingin itu terjadi kepada anak-anaknya,'' katanya.

Karena itu, Alwi mendidik semua anaknya untuk belajar keras. Semua fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan dia penuhi. Mulai buku hingga peralatan sekolah. ''Abah itu dulu, anak-anak pagi minta, sore sudah ada,'' kata Isa mengenang almarhum sang ayah yang meninggal pada 1996 itu.

Ide untuk ramai-ramai kuliah di kedokteran datang dari si sulung, Idrus Alwi. Dia adalah orang pertama dalam keluarga yang kuliah di kedokteran. Saat itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Tiap mudik Lebaran, Idrus bercerita panjang lebar tentang asyiknya kuliah di kedokteran kepada saudara-saudaranya. Mereka pun tergiur. Sejak saat itu target utama adik-adik Idrus setelah lulus sekolah hanya satu: kuliah kedokteran. ''Kampusnya boleh di mana saja. Pokoknya negeri. Soalnya, kuliah dokter kan mahal,'' ujar Isa.

Gayung bersambut. Keinginan itu diamini oleh Alwi. Apalagi, profesi dokter merupakan jasa yang selalu dibutuhkan masyarakat. Lulusan fakultas kedokteran tak bakal nganggur.

Menurut Nafisah, membesarkan 12 anak susah-susah gampang. Disiplin harus ketat. Suaminya, Alwi, kata Nafisah, memberlakukan aturan bahwa seluruh anak harus pulang setiap Magrib. Apa pun alasannya, tidak ada yang boleh keluar rumah bablas hingga Isya. ''Kecuali ada undangan yang benar-benar nggak bisa ditunda,'' kata Nafisah.

Aturan itu cukup efektif. Seluruh anaknya menurut. Kalaupun ada acara dengan teman-temannya, pasti mereka pulang dulu menjelang Magrib. Dengan cara itu, kata Nafisah, me-manage 12 anak jadi gampang. Setelah Magrib, mereka juga tidak boleh langsung terus bablas hingga malam. Mereka harus mengaji dan baca-baca buku pelajaran di rumah walau sebentar. ''Lagi pula, kalau ada kondangan atau acara, kan pasti setelah Isya. Nggak mungkin habis Magrib langsung pergi,'' ujarnya.

Selain itu, keluarga besar tersebut juga sering meluangkan waktu untuk jalan bareng. Setiap Sabtu dan Minggu, toko keluarga Alwi hanya buka separo hari. Sisa waktu lainnya digunakan untuk berjalan-jalan ke taman atau kolam renang di sekitar Kota Palembang. ''Pokoknya ngikutin kemauan anak,'' kata Nafisah.

Kini, 12 bersaudara itu tidak lagi ber-home base di Palembang seperti dulu. ''Markas'' keluarga Shahab itu kini di perumahan Puri Sri Wedari, Cibubur, Depok, Jawa Barat. Di rumah si sulung. Kebanyakan di antara mereka pun bertempat tinggal di kawasan pinggiran Jakarta itu. Paling tidak, ada enam anak Nafisah yang tinggal di sekitar Depok. Beberapa di antara mereka kompak ikut praktik di Rumah Sakit Permata Cibubur.

Soal rumah sakit itu, si sulung juga yang jadi perintisnya. Pada 2003, bersama sejumlah kolega dokternya, Idrus mendirikan RS tersebut. Saat itu, kata Isa, daerah Cibubur masih sepi. Rumah sakit itu bahkan menjadi rumah sakit pertama di daerah tersebut. Alhasil, beberapa saudara Idrus yang lulus sekolah dokter pun diajak praktik di sana sekaligus tinggal di sana. ''Lagi-lagi, kakak pertama yang mengawali,'' ungkapnya.

Nafisah menuturkan, memiliki sepuluh anak dokter tidak selalu mendapat pujian orang. Malah ada yang mencibir. Apalagi kalau anak perempuan yang jadi dokter. ''Buat apa sekolah lama-lama. Nanti tua, jodohnya sulit,'' kata Nafisah menirukan komentar orang-orang.

Tapi, Nafisah percaya bahwa jodoh akan ikut dengan aktivitas anak. Perjalanan studi dokter yang panjang membuat mereka bertemu banyak orang. Karena itu, mitos itu tidak membuat dia ragu mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Kata Nafisah, upaya menyekolahkan anaknya itu sempat mendapat cobaan ketika sang kepala keluarga meninggal dunia pada 1996. Saat itu, empat anaknya masih sekolah. Dua orang di kelas 3 SMA, satu orang di kelas 2 SMA. Sejumlah anak belum lulus kuliah.

Nafisah sempat sedikit terguncang dengan meninggalnya Alwi. Dia melupakan guncangan jiwanya itu dengan bekerja di toko. ''Saat sibuk di toko nggak ingat, tapi pulang di rumah ingat lagi. Sedih rasanya,'' kata nenek 30 cucu itu. Selama dua tahun, perasaan itu terus dia alami.

Namun, perempuan kelahiran 1 Agustus 1946 itu tak menyerah. Dengan toko dan warisan suami, pendidikan 12 anaknya terus diperjuangkan. Beberapa anak yang sudah mentas dan bekerja ikut membantu ongkos sekolah dan kuliah. Beban itu, kata Nafisah, tidak terlalu berat. Sebab, toko mereka juga masih laris. ''Tapi, tanah dan aset abah dijual semua untuk membiayai anak-anak sekolah,'' ungkap Isa.

Sepuluh tahun setelah sang suami meninggal, Nafisah berhasil mengatar lulus anak-anaknya. Mereka juga sudah mandiri dan berkeluarga. Sejak saat itu, anak-anak melarang Nafisah sibuk di toko. Mereka lantas memboyong Nafisah ke Cibubur agar dekat dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

Kini saat ada waktu luang, anak dan cucunya mengajak dia pelesir ke luar negeri.''Pokoknya keliling ke mana-mana, sampai lupa negaranya,'' kata Nafisah. Hari ini Nafisah berencana mengunjungi Nouval Shahab, anaknya yang sedang mengejar gelar PhD di Jepang. ''Visanya baru keluar hari ini (kemarin), besok (hari ini) langsung berangkat,'' katanya. (*/c1/ari)







sumber : http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=130121

[GREAT!!]Toko Virtual Pertama yang Ada Di Dunia Nyata

Sebuah perusahaan bisnis pengecer di Korea Selatan telah membuka apa yang terlihat sebagai toko virtual pertama di dunia ditujukan untuk pengguna smartphone, pembeli melakukan pemindaian barcode produk yang ditampilkan di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Seoul. Homeplus, rantai diskon kedua terbesar nasional, menawarkan 500 item termasuk makanan, elektronik, perlengkapan kantor dan perlengkapan mandi di "swalayan" di stasiun Seolleung selatan pada kota dengan penduduk 10 juta jiwa.

Tujuh pilar dan pintu platform enam layar telah ditempeli dengan gambar seukuran rak-rak toko penuh dengan barang-barang - seperti susu, apel, kantong beras atau ransel sekolah - yang masing-masing mempunyai barcode kecil di depannya. Pembeli mendownload aplikasi yang terkait pada smartphone mereka dan melakukan pembelian dengan mengambil foto dari barcode di tiap barang.











Agan dan Sist Nyimak Video tersebut,Unik Cara Pembayarannya , Di Simak Ya


 Mungkin Agan-agan Yang Punya HP Android atau I-Phone,bisa Mendownload Aplikasi Seperti Barcode Scanner atau app sejenis laiinya di market,itulah kegunaanya,di Indonesia sepertinya App tersebut belum bisa digunakan 





 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes